Pagi ini setelah merapikan rumah dan menyiapkan perbekalan untuk ayah dan ibu yang akan pergi reunian bersama teman-teman ayah di Jambore, aku pun bersiap-siap akan pergi bersama kakakku yang sudah menjemputku. Setelah memasukkan barang-barang yang akan aku bawa ke dalam tas kakakku, kami pun barangkat, tinggallah adikku di rumah sendirian. Tujuan kami adalah untuk refreshing dari penatnya kegiatan yang telah kami jalani. Hal yang biasa kami lakukan saat ingin merenggangkan otak dan sedikit relaksasi diri saat jenuh dengan semua tugas dan kegiatan kami adalah mencari tempat-tempat baru yang belum pernah kami kunjungi, kami menyebut ini BOLANG, biasanya kami lebih suka mencari suasana alam. Hari ini, memperingati Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1432 Hijriah, kami akan melalukan perjalanan lagi. Kali ini tujuan kami adalah air terjun. Salah satu tempat wisata di daerah Cibodas, yaitu Kebun Raya Cibodas, ya, ini tujuan kami hari ini. Bersama “engkong”, motor kakakku jaman dia SMA, yang knalpotnya masih menggunakan knalpot standar, kami berangkat menuju Cibodas, melewati jalan Raya Bogor, terminal Baranangsiang, Ciawi, kota Bogor, Puncak dan sekitarnya, kami juga melewati Taman Bunga Nusantara, tempat yang pernah kami kunjungi terdahulu. Bersama kakakku dan engkong, aku berangkat dari Cibubur untuk refresing, sejenak menghilangkan penat dengan semua tugas kampus yang tak ada habisnya.
Sesampainya di Kebun Raya Cibodas, kami memutuskan untuk langsung menuju air terjun yang ada di sana. Kami duduk di pinggirnya, mengamati orang-orang yang sedang bergaya untuk difoto. Kami pun tak mau kalah, lalu aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Baru satu kali foto, kami bergegas pindah mencari tempat duduk yang lebih nyaman untuk mengobrol. Akupun lupa dimana aku menyimpan HP-ku itu. Sampai di tempat yang lumayan nyaman untuk duduk, aku baru sadar klo HP-ku tidak ada dalam kantong. Kakakkupun tidak merasa dititipkan HP olehku. Lalu kakak bergegas ke tempat yang sebelumnya untuk mencari HP-ku, aku pun membongkar-bongkar tas untuk mencarinya, namun hasilnya NIHIL. HP-ku hilang. Sedih banget L tp mau gimana lagi, ini semua kecerobohanku. Dan aku harus mengikhlaskan HP kesayangan aku itu, SONY ERICSON C510. baru setahun aku bersamanya, dan HP ini adalah HP termahal yang pernah dibelikan orang tua aku. Sayang banget, padahal fitur di dalamnya itu sudah lumayan memfasilitasi kegiatanku setiap harinya. Dan HP itu sangat bisa diandalkan untuk mendokumentasikan setiap kegiatan aku bersama teman-temanku. Tapi kini HP itu telah hilang bersama kenangan yang ada di dalamnya. yang paling aku sayangkan adalah nomor telepon dalam kontak itu karena aku tidak memiliki back up kontak tersebut sehingga aku banyak kehilangan kontak dengan teman-temanku. Sedih rasanya, namun mau apalagi, aku harus ikhlas melepasnya.
Terlepas dari HP ku yang hilang, kakakku memberikan solusi dan aku memilih sepulangnya dari sini, aku akan membeli HP baru dengan fitur yang tak kalah canggih dengan HP ku sebelumnya tentu dengan harga yang lumayan terjangkau dengan tabungan yang aku punya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang ganjil yang aku rasakan karena aku sama sekali tak bisa mengingat kejadian saat HP itu hilang. Namun entah mengapa jika aku ada bersama kakakku ini, aku tak merasakan sedih, gundah ataupun panik seperti saat pertama kali HP yang ku beli dengan tabungan ku dulu hilang. Kakak aku bisa membawa aku dalam suasana yang tenang dalam menghadapi setiap masalah yang sedang aku alami. Setelah memutuskan solusi untuk masalah ini, aku dan kakakku kembali pada tujuan semula kami datang kesini, yaitu mendengarkan cerita dari kakakku yang selama ini tak sempat aku tahu karena kesibukanku dengan tugas kampus yang ada belakangan ini.
Kakakku bercerita panjang lebar dan aku mendengarkan dengan serius detail demi detail cerita dari kakakku, dan aku banyak belajar dari cerita kakak aku ini, bahwa hidup ini adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan yang kita ambil punya resiko berbeda yang harus kita hadapi. Aku salut dengan perjuangannya dan kesabarannya dalam menunggu. Jika saja semua laki-laki seperti kakak aku, mungkin para perempuan akan merasakan kenyamanan yang amat sangat J
Hujan turun dengan derasnya sore ini di Kebun Raya Cibodas, kamipun bergegas berlari mencari tempat berlindung dari hujan yang turun menitikkan airnya. Aku bercerita banyak tentang semua hal yang selama ini membebani perasaan dan fikiranku. Kakakku benar-benar sosok yang sangat menenangkan, aku mampu menceritakan semua tanpa meneteskan air mata disini.
Setelah hujan agak mereda, kami mencari warung untuk menghangatkan badan, aku menggigil kedinginan dan aku juga tidak membawa jaket. Kakakku memesan mie rebus dan badrek, sedangkan aku hanya memesan teh hangat saja karena aku memang sedang tidak ingin makan apapun. Kakakku memberikan jaketnya untuk aku kenakan, dan berangsur-angsur aku merasa lebih baik. Selesai makan, hujan pun sudah mulai agak reda, kemudian kami memutuskan untuk segera turun, pulang kembali ke Jakarta. Dengan menggunakan jas hujan, kami menembus hujan yang menemani perjalanan pulang kami. Di jalan aku menceritakan “tentang rasa”, perasaan aku yang saat ini aku alami, tentang bagaimana menunggu dan mendapat perlakuan yang aku tak suka, namun aku masih bisa mengontrol hati agar tidak menjatuhkan air mata untuk hal ini. Kemudian kakakku menasehati aku dengan kata-kata yang pelan namun bernada tegas sehingga aku seperti terpukul dengan apa yang dikatakan oleh kakakku itu, tanpa terasa air mata pun mengalir begitu saja jatuh dipipiku yang memang basah karena tetesan hujan yang jatuh membasahi kami. Namun jika aku fikirkan menggunakan logika, kakak aku memang sedang mengajak aku melihat kenyataan yang sedang terjadi. Selama ini aku seperti berada dalam alam mimpi yang aku sendiri tersesat dalam mimpi itu. Kakak aku bilang, “kakak lo ini co dek, sedikit banyak gw tahu co itu kayak gimana, secuek-cueknya co, walopun sama orang lain dia melakukan hal itu, dia ga akan memperlakukan lo seperti itu klo co itu emang bener-bener sayang sama lo. Gw ini juga co dek, gw tahu bagaimana harus bersikap dengan teman, atau orang yang gw sayang. Lo bisa kan liat gimana gw bersikap. Coba gunakan logika lo dek, jangan biarkan perasaan menguasai pikiran lo. Lo harus bisa jadi ce yang beda dari kebanyakan ce yang membiarkan perasaan mempengaruhi cara berfikirnya Lihat realnya dek, liat kenyataan. masih banyak diluar sana yang lo harus liat, yang mungkin lebih baik dari dia. Kalo lo udaa memerikan kesempatan dan waktu untuk nungguin dia tapi respon dia ke lo yang ga sebanding sama pengorbanan lo, buat apalagi berada dalam ketidakjelasan hubungan dek, itu Cuma akan nyakitin lo doang. Kayaknya lo ga belajar dari masalah lo sebelumnya, lo masi sama menyikapi hal yang kayak gini. Kalo lo ga belajar, gimana nanti klo lo udaa jadi oang tua, masalahnya akan lebih banyak dari yang lo hadapi sekarang dek. Memang setiap keputusan yang lo ambil akan ada resiko tentunya, tapi semua kembali lagi sama diri lo. gw hanya menyarankan saja karena gw ga mau liat ade gw sedih Karena masalah yang sama. Semangat dek.” denger kata-kata kakak aku itu, aku seperti tertampar dan terbangun dari mimpi aku selama ini. Kemudian aku memilih untuk “move on” dari kehidupan aku sebelumnya. Setidaknya aku suah berusaha untuk menunggunya, namun perlakuan yang aku terima benar-benar tak sebanding. Aku kecewa namun aku mampu mengatasinya :) Saat ini aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Aku mampu bangkit. Terima kasih banget buat kakak aku yang sudah memberikan banyak masukan dan nasehat serta mensupport aku untuk bangkit dari semua ini.
Setelah sampai di Jakarta, kami lansung mampir untuk membeli HP pengganti SONER C510 yang telah hilang. Dari semua HP yang ada, kakak ku memilihkan Nokia C3 yang punya fitur hampir sama dengan HP yang hilang sebelumnya. Kelebihannya karena C3 ada WIFI-nya, sedangkan kekurangannya terletak pada kameranya karena hanya 2 MP. Namun aku puas dengan pilihan kakakku itu. Lalu dia juga memilihkan nomer sementara yang aku gunakan sambil menunggu mengurus nomer yang hilang itu nanti. Kemudian kami pulang dan aku langsung beristirahat :)
Setiap waktu yang aku habiskan bersama kakakku, aku selalu merasa tenang dan senang, bahkan untuk meneteskan air mata pun akan sangat jarang ku lakukan, benar-benar sosok kakak yang mampu menenangkan aku. 7 tahun sudah ku habiskan waktu bersamanya, aku merasa seperti punya sosok kakak kandung sendiri.
TERIMA KASIH BANYAK KEPADA KAKAK AKU, DANIEL WAHYU YANG TELAH MENEMANI AKU HARI INI DAN MEMBERIKAN BANYAK MASUKKAN BUAT DD :) THANKS SO KA ^^,
Cibodas, 1 Muharram 1432 Hijriah













0 comments:
Post a Comment